Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikamah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikamah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Maret 2016

Mutiara Hikmah: Resume ngaji bareng Ust. Abdurrohman (Galuga, 24 Maret 2016)

Sayyidina Abu Bakar Shidiq  berkata:
"Barang siapa yang masuk ke alam kubur tanpa bekal ibarat masuk lautan tanpa perahu"

Ini jadi peringatan bagi kita yang masih hidup untuk mempersiapkan bekal yang banyak.
Dunia adalah tempat menanam dan kita akan memanen di akhirat. Tanamlah yang baik baik.
Sawah dan tanaman didunia bisa dijual beli, tapi tanaman (baca: amal) akhirat tidak bisa dijualbelikan, kecuali biidznillah, syafaat Rasul.Tiap amal ditanggung sendiri sendiri.
Yang disebut bekal yaitu amal sholih. Dan sebaik baiknya bekal adalah taqwa.

Rasullulloh bersabda:
"Kamu harus kasihan terhadap orang meninggal, karena mereka ibarat orang tenggelam di lautan."
Dikasih papan/pelampung  aja udah seneng.Tolonglah!
Ada amalannya yaitu lakukan sholat Unsi/hadiah. Ini akan jadi penolong,  akan jadi teman di kuburnya.
Syarat sholat Unsi, pelaksana sholat sudah mengetahui mayit dan pernah bertemu.
Caranya dilakukan malam pertama ba'da  sholat maghrib 2 rakaat. Bacaan tiap rakaat adalah fatihah, ayat kursi 1 kali,  At Takatsur 1 kali, Al ikhlas 11 kali. Setelah salam, hadiah doa dikhususkan kepada jenazah. Sebut namanya fulan bin fulan.

"Barang siapa yang melakukan sholat ini setiap malam misal buat orang tua kita, paman kakek nenek kita, dll secara  bergantian, maka Alloh tidak akan  mematikan dulu sebelum dia melihat tempatnya di surga nanti".
Wallohu a'lam.

Sayyidina Umar Bin Khotob berkata:
"Mulia dunia dengan harta, mulia akhirat dengan amal sholih."
Tidak akan kuat mengurusi urusan dunia kecuali dengan harta (uang) dan tidak akan kuat mengurusi akhirat kecuali dengan amal sholih.

Sayyidina Utsman Bin Affan berkata:
"Bingung dunia jadi gelap hati,  bingung akhirat jadi cahaya hati."
Sibuk urusan dunia akan bikin hati gelap, hati khawatir, cemas, galau. Sibuk dan bingung akhirat akan menjadikan kita takut siksa, akan cari cara agar dicintai Alloh, agar Alloh ridho.

Akhirnya, kita mohon ampun pada Alloh. Yuuk persiapkan amal sholih mumpung masih hidup. Nabung amal, nabung sholat,  nabung dhuha tahajjud, nabung sedekah dan lainya yang baik baik. Insya Alloh jadi amal jariyah buat kita.

Wallohu a'lam
Salam
Al Faqir
#alihyaselaludihati

Kamis, 17 Maret 2016

Orang yang Menuntut Ilmu menurut Imam Malik


(Ringkasan Kuliah Subuh Kitab Ihya 'Ulumuddin Riwayat Imam Malik, 19 Maret 2016 @Majelis Al-Ihya Dramaga)

Imam Malik dikaruniai sifat yang 5, seperti Imam Syafi'i. Maka ketika Imam Malik ditanya, 
"Apa pendapatmu tentang orang yang menuntut Ilmu?"

Beliau menjawab,"Khasanun jamiilun (sangat baik)". 
Kamu harus memperhatikan yang diwajibkan dari shubuh sampai sore yaitu menuntut Ilmu. Dan Imam Malik termasuk yang mengagungkan Ilmu Agama, apabila beliau hendak mengajar Ilmu hadist, beliau berwudlu, kemudian duduk di tempat duduknya, kemudian merapikan jenggotnya, kemudian memakai wewangian, kemudian beliau duduk di mimbar, duduk dengan tenang dan terhormat. 
Kemudian beliau mengajar hadist. Dan dikatakan, "Aku senang mengagungkan hadist Nabi SAW." 
Dan beliau berkata,"Ilmu adalah cahaya, Alloh memberikan apa yang beliau kehendaki dan tidak banyak memberikan riwayat (basa basi)." 
Dan ketenangan menunjukkan adanya ma'rifat dengan keMaha Luhuran Alloh.
____________________________________
#YukNgaji
@alihya_dramaga

Minggu, 18 Oktober 2015

MUHAMMAD KECIL (4)



Setelah itu semakin bertambah keganasan Diwan Taftisy begitupan siksaan mereka terhadap sisa-sisa keturunan Muslim Arab , Tiada Hari Berlalu kecuali kami melihat 20 atau 30 orang yang disalib atau dibakar dalam keadaan hidup-hidup. Tiada Hari berlalu kecuali kami mendengar ratusan orang yang disiksa dengan kejam, kuku mereka dicabut sedangkan mereka melihat dengan mata mereka sendiri, diberi minum sampai mereka tak mampu bernafas, kaki dan tubuh mereka dipanggang, jari mereka dipotong, di bakar lalu diletakkan di mulut mereka serta didera sampai kulit-kulit mereka bertaburan.
Kejadian ini terus terjadi sepanjang hari, Suatu hari ayahanda berkata kepada saya: Nak, saya merasakan bahwa ajal ini sudah dekat, dan saya akan memperoleh syahid atas tangan-tangan mereka, Semoga Allah menganugerahi  surga sehingga saya  termasuk orang yang mendapat keuntungan yang agung. Saya tidak punya hajat lagi di dunia ini setelah saya mengeluarkanmu dari kegelapan kekafiran menuju cahaya Iman. Saya sudah menanggungmu sebagai amanat besar yang mana saya hampir terpeleset karena beratnya. Jikalau ada sesuatu yang menimpa ayah, maka ta’atilah pamanmu ini jangan pernah kamu menyelisihinya!.

Rabu, 14 Oktober 2015

MUHAMMAD KECIL (3)



Ya, kita yang membangun kota-kota ini….kita yang membangun jembatan-jembatan ini, kita yang meratakan jalan-jalan ini…kita yang membelah saluran-saluran ini….kita yang menanam pohon-pohon ini….Akan tetapi sejak 40 tahun…..apakah kamu mendengarkan? Semenjak 40 tahun penguasa yang buruk Abu Abdullah Ash-Shogir penguasa terakhir kerajaan kita di Negeri ini tertipu dengan Janji Spanyol dan perjanjian mereka..ia menghalalkan benteng umat dan kuburan-kuburan nenek moyangnya….dan pergi menuju daratan maghrib untuk mati di sana sendiri terbuang.  mereka memberikan janji kepada kami dengan kebebasan, keadilan, dan kemerdekaan, setelah mereka berkuasa mereka mengingkari semua janji-janji itu , lalu membentuk Diwan Taftisy kemudian memasukkan putra-putra kami secara paksa ke dalam agama Kristen, memaksa kami meninggalkan bahasa kami serta mengambil putra-putra kami untuk dijadikan Kristen. Demikianlah rahasia yang kamu lihat, sembunyinya kami dalam beribadah dan kesedihan kami atas apa yang kami lihat dari ujian agama dan pengkafiran putra-putra kami. 40 tahun wahai anakku….dan kami bersabar atas penderitaan yang mana batu keraspun tak mampu menahannya, kami menanti pertolongan Allah, kita tidak boleh putus asa, karena putus asa terlarang dalam agama kita, agama yang mengajarkan kekuatan, kesabaran, dan perjuangan. inilah rahasia itu wahai anakku, maka sembunyikanlah! Dan ketahuilah hidup ayahmu tergantung kepada kedua bibirmu. Demi Allah, saya tidak takut mati atau benci berjumpa dengan Allah, akan tetapi saya ingin tetap hidup supaya bisa mengajarkanmu bahasamu, agamamu serta menyelamatkanmu dari kegelapan kekafiran menuju cahaya iman. Sekarang berdirilah menuju tempat tidurmu !

Selasa, 13 Oktober 2015

MUHAMMAD KECIL (2)



Ayahanda berkata kepadaku: kenapa kamu tidak menjawab?
Saya menjawab: Ya
Ia berkata: kamu sembunyikan rahasia ini bahkan dari ibumu dan orang-orang terdekatmu.
Saya menjawab: Ya
Beliau berkata: Mendekatlah kepadaku. Dengarkan dengan baik, karena saya tak bisa mengeraskan suara, saya khawatir tembok-tembok itu ada telinga-telinga yang mendengarkanku lalu melaporkanku ke Diwan Taftisy.
Lalu saya mendekat dan berkata: saya akan mendengarkan, Pak.
Beliau menunjuk Kitab yang ada di rak , dan berkata: kamu tahu Kitab ini, wahai Anakku?
Saya menjawab: Tidak.
Beliau berkata: Ini kitab Allah
Saya berkata: Kitab Suci yang dibawa oleh Yasu’ putra Tuhan
Lalu beliau gelisah, dan berkata: bukan, bukan….ini adalah Al-Quran yang diturunkan Allah -yang Maha Esa,  Satu-satunya tempat bergantung, yang tiada melahirkan tidak pula dilahirkan, dan tak ada sekutu bagi-Nya – kepada sebaik-baik ciptaan-Nya dan Pemimpin para Nabi-Nya, Penghulu kita Nabi Muhammad putra Abdullah, Nabi Berbangsa Arab –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- 

Senin, 12 Oktober 2015

MUHAMMAD KECIL (1)



Muhammad  Kecil***
Ia bercerita:
Saya pada saat itu masih kecil tak  mengerti apa yang sedang terjadi, akan tetapi saya mendapati ayah –Semoga Allah merahmatinya- dalam keadaan gelisah dan kulitnya menguning setiapkali  saya pulang dari sekolah  kemudian saya bacakan kepadanya apa yang telah saya hafal dari Kitab Muqaddas (Injil.red) dan menyampaikan apa yang saya pelajari dari bahasa spanyol, namun beliau berpaling dan pergi ke ruangan beliau yang berada di bagian dalam rumah yang mana  beliau  tak mengizinkan seorangpun mendekati pintunya, lalu  berdiam diri di  dalamnya berjam-jam. Saya tak tahu apa yang beliau kerjakan di kamar tersebut.  Kemudian   keluar dalam keadaan mata memerah seolah-olah beliau menangis sejadi-jadinya, setiap hari beliau  menatap saya dengan tatapan kesedihan. Beliau akan  menggerakkan bibirnya ketika ada hal yang ingin dibicarakan. Jikalau  saya berdiri  mendengarkan perkataan beliau maka beliau membelakangi saya dan pergi tanpa berkata apapun

Jumat, 27 Maret 2015

Ketika Si Penyembah Api Dapat Hidayah dan Berkah

Pada masa Malik bin Dinar, hidup seorang pemuda. Dahulu pemuda tersebut, seorang penyembah api. Namun setelah ia mendapat hidayah untuk masuk Islam, ia pun mengajak seluruh anak dan istrinya untuk ikut masuk Islam.

Suatu hari, usai mengikuti sebuah majelis yang dipimpin Malik bin Dinar di Kota Bashrah, ia pulang ke rumahnya yang berupa puing tua. Meski kehidupannya sangat miskin, ia bertekad tak akan menjual agama Islam yang telah dipeluknya demi harta.

“Pergilah ke pasar, carilah pekerjaan. Belilah makanan secukupnya untuk kita makan,” kata istrinya, sewaktu pagi.

“Baiklah,” kata pemuda itu.

Kemudian, ia bergegas pergi ke pasar, berharap mendapat sebuah pekerjaan yang halal. Namun, hari itu tidak ada seorang pun yang memberinya pekerjaan.

“Lebih baik aku bekerja untuk Allah saja,” kata pemuda tersebut, dalam hati.Ia pun pergi ke sebuah masjid. ia terus shalat hingga malam tiba. Lalu pulang dengan tangan hampa.

“Kamu tak membawa sesuatu?” tanya istrinya.“Hari ini, aku bekerja untuk Raja. Dia belum memberinya hari ini. Semoga saja esok diberi,” jawabnya.

Mereka melewatkan malam dengan rasa lapar. Hari berikutnya, ia belum juga mendapatkan pekerjaan, dan kembali pulang dengan tangan hampa. Hingga pada hari Jum’at, ia kembali ke pasar.

Namun, sayangnya ia belum jua mendapat pekerjaan. Ia pun pergi ke masjid. Setelah shalat dua rakaat, ia mencurahkan isi hatinya kepada Allah.

“Tuhanku! Pemukaku! Junjunganku! Engkau telah memuliakanku dengan Islam. Kau berikan aku keagungan Islam dam petunjuk terbaik. Atas nama kemuliaan agama yang telah kau berikan padaku dan dengan kemuliaan hari Jum’at yang agung, aku mohon tenangkan hatiku, karena sulitnya mencari nafkah untuk keluargaku. Berikanlah aku rizki yang tak terhingga. Demi Allah! aku malu kepada keluargaku. Aku takut berubah pikiran mereka tentang Islam,” pintanya.

Di saat yang sama, ketika pemuda itu shalat Jum’at. Saat anak istrinya tengah kelaparan. Pintu rumahnya diketuk seseorang. Rupanya, datang seorang lelaki yang membawa nampan emas yang ditutup dengan sapu tangan bersulam emas.

“Ambil nampan ini. katakan kepada suamimu. Ini upah kerjanya selama dua hari. Akan kutambah bila ia rajin bekerja. Apalagi pada hari Jum’at seperti ini. amal yang sedikit, pada hari ini di sisi Raja Yang Maha Perkasa artinya sangat besar sekali,” ucap sang lelaki tersebut.

Nampan tadi, tak disangka berisi 1000 dinar. Ia pungut 1 dinar untuk ditukarkan di tempat penukaran uang. Pemilik penukaran uang yang seorang Nasrani mengatakan uang tersebut bukan dinar biasa. Sebab, beratnya dua kali lipat dari dinar biasa.

“Dari mana kau dapatkan ini?” tanya Nasrani tersebut.

Setelah diceritakan kisah yang telah ia alami tadi, 1 dinar tadi ditukar dengan 100 dirham.Sementara itu, sepulang dari masjid, sang suami kembali dengan tangan hampa. Namun, di tengah jalan ia membawa beberapa jumput pasir dan dimasukkannya ke dalam sapu tangan.

“Bila nanti ditanya, kujawab saja isinya tepung,” gumamnya dalam hati.

Ketika masuk rumah, tercium bau makanan. Sambil keheranan, ia bertanya kepada istrinya, gerangan apa yang terjadi, bungkusan pasir ia taruh di samping pintu.Setelah diceritakan semuanya, sontak ia langsung sujud syukur kepada Allah.

“Apa yang kau bawa tadi?” tanya istrinya. Rupanya istrinya tahu, sang suami tadi membawa sesuatu.

“Ah, jangan kau tanyakan itu,” jawabnya.

Karena penasaran, bungkusan pasir diambil oleh istri. Namun apa yang terjadi, ternyata pasir tadi telah berubah menjadi tepung.

Kembali ia dan istrinya, bersujud kepada Allah. Atas keajaiban dan rizki yang telah diberikan. (Ajie Najmuddin)

Disarikan dari Kitab Al-Mawa’idhu al-‘Usfuriyyah
sumber : nu.or.id